SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

KONSEP PENDIDIKAN PESANTREN, MADRASAH, MAJLIS TA’LIM DAN PENDIDIKAN TINGGI AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF HISTORIS DAN NORMATIF

Oleh Partin




KONSEP PENDIDIKAN PESANTREN, MADRASAH, MAJLIS TA’LIM DAN PENDIDIKAN TINGGI AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF HISTORIS DAN NORMATIF

A.     Konsep Pendidikan Pesantren Dalam Perspektif Historis Dan Normativitas

Secara historis, tidak banyak mengatakan kapan pesantren pertama berdiri, bahkan istilah pesantren, kiai dan santri masih diperselisihkan.
Kata pesantren berasal dari kata “santri” yang berawalan “pe” dan berakhiran “an”, yang berarti tempat tinggal para santri.
Istilah santri, menurut pendapat C.C. Berg berasal dari “sastri” yang dalam bahasa India berarti ahli kitab suci agama Hindu/ buku-buku suci atau buku agama / buku tentang ilmu pengetahuan.[1]
Pesantren adalah tempat belajar para santri, yang mempunyai persamaan dengan pondok, funduk, asrama, rangkang, surau dan langgar atau tempat pendidikan manusia baik-baik.[2]
Dilihat dari sudut keberadaan pesantren, berbeda dengan pendapat dari kalangan peneliti.
Sementara pendapat pada umumnya, berdirinya suatu pesantren diawali dari pengakuan masyarakat akan keunggulan dan ketinggian ilmu seorang guru atau kiai dan keinginan menuntut ilmu/ memperoleh ilmu dari kiai itu, maka masyarakat sekitar/ luar daerah datang kepadanya untuk belajar, lalu membangun tempat tinggal yang sederhana di sekitar tempat tinggal kiai tersebut.
Wahjotomo mengatakan bahwa pesantren yang berdiri di tanah air, khususnya di Jawa dimulai dan dibawa oleh Wali Songo.
Maka tidak berlebihan bila dikatakan pondok pesantren pertama didirikan oleh Syeikh Maulana Malik Ibrahim, wafat tanggal 12 Rabi’ul Awal 822 H atau tanggal 8 April 1419 M di Gresik.
Muhammad Yunus mengatakan dalam sejarah pendidikan Islam bahwa asal usul pesantren yang menggunakan bahasa Arab pada awal pelajarannya, ternyata dapat ditemukan di Baghdad ketika menjadi pusat dan ibu kota wilayah Islam, tradisi menyerahkan tanah oleh negara dapat ditemukan dalam sistem wakaf.
Ciri-ciri umum/ gambaran tentang kehidupan pesantren menyentuh aspek kesederhanaan bangunan, lingkungan, cara hidup dan kepatuhan kepada kitab-kitab klasik.
Tradisi pesantren merupakan kerangka sistem pendidikan Islam tradisonal di Jawa dan Madura.
Tujuan pendidikannya tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran murid dengan penjelasan-penjelasan, tetapi untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku jujur dan bermoral dan menyiapkan para murid untuk hidup sederhana dan bersih hati.
Diantara cita-cita pendidikan pesantren adalah latihan untuk dapat berdiri sendiri  dan membina diri agar tidak menggantungkan sesuatu kepada orang lain kecuali kepada Tuhan.
Para kiai selalu menaruh perhatian dan mengembangkan watak pendidikan Individual santri sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan dirinya.
Menurut tradisi pesantren, pengetahuan seseorang diukur oleh jumlah kitab/ buku-buku yang telah pernah dipelajari dan kepada ulama mana ia telah berguru dan tradisi itu dikenal pada sistem pemberian “ijazah”.[3]

B.    Konsep Pendidikan Madrasah Dalam Perspektif Historis Dan Normativitas

Madrasah adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang merupakan kelanjutan dari pendidikan dan pengajaran agama Islam yang dilakukan di rumah, langgar, surau masjid dan pesantren.
Madrasah mulai bangkit pada awal abad XX. Sejarah dan perkembangan madrasah dibagi dalam dua periode yaitu :

1.      Periode sebelum kemerdekaan.
Yaitu dalam bentuk pengajian Al Qur'an dan kitab yang diselenggarakan di rumah-rumah, surau, langgar, masjid dan lain-lain. Pada perkembangan selanjutnya mengalami perubahan bentuk baik dari segi kelembagaan, materi pengajaran (kurikulum), metode maupun struktur organisasinya, sehingga melahirkan suatu bentuk yang baru disebut madrasah.
Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam berfungsi menghubungkan sistem lama dengan sistem baru dengan jalan mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik yang masih bisa dipertahankan dan mengambil sesuatu yang baru dalam ilmu teknologi dan ekonomi yang bermanfaat bagi kehidupan umat Islam.
Dengan hal itu, isi kurikulum budaya madrasah pada umumnya adalah apa yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam (surau dan pesantren) ditambah dengan beberapa materi pelajaran yang disebut ilmu-ilmu umum.
Latar belakang pertumbuhan madrasah di Indonesia dapat dikembalikan pada dua situasi yaitu :
a.     Gerakan pembaharuan Islam di Indonesia.
Gerakan ini muncul pada awal abad ke 20, yang dilatar belakangi oleh kesadaran dan semangat yang komplek, seperti yang diuraikan oleh Karel A. Steenbrink, dengan mengidentifikasi adanya 4 faktor yang mendorong gerakan pembaharuan Islam di Indonesia, yaitu :
1).    Keinginan kembali kepada  Al Qur'an dan sunnah.
2).    Semangat nasionalisme melawan penguasa kolonial Belanda.
3).    Memperkuat basis gerakan sosial, ekonomi, budaya dan politik.
4).    Untuk melakukan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.
Dengan demikian, pemunculan madrasah tidak bisa lepas dari gerakan pembaharuan Islam yang dimulai oleh beberapa orang tokoh intelektual agama Islam yang selanjutnya dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam.
b.     Respon pendidikan Islam terhadap kebijakan pendidikan Hindia- Belanda.
Pertama kali bangsa Belanda datang ke Nusantara hanya untuk berdagang, tetapi karena kekayaan alam Nusantara yang sangat banyak, maka tujuan itu berubah untuk menguasai wilayah Nusantara dan menanamkan pengaruh sekaligus dengan mengembangkan fahamnya yang terkenal dengan 3G yaitu  Glory (kemenangan dan kekuasaan), Gold (emas/ kekayaan Indonesia), Gospel (upaya salibisasi dalam penyebaran misi-misi Belanda/ VOC dengan mendirikan sekolah-sekolah kristen.
Pada perkembangan selanjutnya di awal abad ke 20, atas perintah Gubernur Jendral Van Heats 2, sistem pendidikan itu diperluas dalam bentuk sekolah desa,walaupun masih diperuntukkan terbatas bagi kalangan anak-anak bangsawan.
Namun pada masa selanjutnya, sekolah ini dibuka secara luas untuk rakyat umum dengan biaya yang murah.
Dengan demikian masyarakat umum mempunyai kesempatan memasuki sekolah-sekolah tersebut.
Adapun sekolah-sekolah yang diselenggarakan secara tradisional oleh kalangan Islam mendapat tantangan dan saingan berat terutama dari sekolah-sekolah pemerintah Hindia-Belanda___yang dikelola secara modern.
Perkembangan sekolah yang demikian merakyat menyebabkan timbulnya ide-ide di kalangan intelektual Islam untuk memberi respon dan jawaban terhadap tantangan itu, dengan tujuan untuk memajukan pendidikan Islam.
Ide-ide itu muncul dari tokoh-tokoh yang pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Mereka mendirikan lembaga pendidikan baik secara perorangan / kelompok / organisasi yang dinamakan madrasah.
Madrasah-madrasah yang didirikan antara lain Madrasah Adabiyah (Adabiyah School), Sekolah Agama, Madrasah Diniyah, Madrasah Muhammadiyah, Arabiyah School, Sumatra Thawalib, Madrasah Diniyah Putri, Madrasah Salafiyah dan madrasah-madrasah lainnya.

2.      Periode sesudah kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, kemudian pada tanggal 3 Januari 1946 dibentuk Departemen Agama yang mengurus masalah keberagamaan di Indonesia, termasuk di dalamnya pendidikan madrasah.
Pada perkembangan selanjutnya madrasah sudah berada di bawah naungan Departemen Agama tetapi hanya sebatas pembinaan dalam pengawasan dan dirasakan masih tersisih dari sistem pendidikan nasional.
Keadaan tersebut berlangsung sampai dengan keluarnya SKB tiga menteri tanggal 24 Maret 1975 yang tersohor untuk mengembalikan ketertinggalan pendidikan Islam untuk memasuki mainstream pendidikan nasional.
Kebijakan ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi madrasah. Pertama, ijazah dapat mempunyai nilai yang sama dengan sekolah umum sederajat. Kedua, lulusan sekolah madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum yang setingkat lebih tinggi. Ketiga, siswa madrasah dapat pindah ke sekolah umum yang setingkat.
Dengan SKB tersebut, madrasah memperoleh definisi yang semakin jelas sebagai lembaga pendidikan yang setara dengan sekolah sekalipun pengelolaannya tetap berada di bawah departemen agama.
Pada perkembangan selanjutnya, akhir dekade 1980 an, dunia pendidikan Islam memasuki era integrasi. Dan lahirnya UU. No. 2 tahun 1989 dinyatakan bahwa sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan yang menurut jenisnya terdiri  atas pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik dan pendidikan profesional.[4]

C.    Konsep Pendidikan Majlis Ta’lim Dalam Perspektif Historis Dan Normativitas

Majlis adalah perkumpulan suatu tempat bertemunya halaqah. Sedangkan ta’lim secara harfiah adalah memberitahukan sesuatu kepada seseorang yang belum tahu.
Dalam perbedaan bahasa Arab modern, kata ta’lim dipergunakan dalam pengertian pengajaran. Seperti dalam firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 31-32.









Apabila kita perhatikan ayat di atas, metode yang digunakan Allah SWT dalam transformasi ilmu pengetahuan kepada nabi Adam a.s adalah dengan metode ta’lim.
Metode ta’lim merupakan metode dasar dalam pendidikan, bahkan di dalam aktifitas komunikasi antara seseorang dengan orang lain, dan pihak-pihak yang bersangkutan, harus menyamakan pengertian tentang objek yang dibicarakan.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa metode ta’lim dapat diterapkan dengan kriteria objeknya belum memiliki pengertian tentang apa yang dibicarakan, atau objeknya sama sekali belum mempunyai gambaran/ pengetahuan tentang apa yang dihadapi. Sebagai contoh penerapan dalam bidang aqidah, ibadah dan akhlak.
Metode ta’lim dapat dilakukan dengan pola antara lain :
1.  Ma’radlun, yaitu memperhatikan benda/ gambarannya secara kongrit disertai namanya.
2.  Naba’un, yaitu menyebutkan nama benda/ keadaan yang pernah diketahui tetapi tidak tahu namanya.[5]


D.    Konsep Pendidikan Pendidikan Tinggi Agama Islam Dalam Perspektif Historis Dan Normativitas

Gagasan tentang perlunya penyediaan pendidikan tinggi bagi anak-anak muslim mulai dikemukakan secara meluas pada tahun 1939.
Sedangkan gagasan pendirian perguruan tinggi Islam terus hidup dan menampakkan perwujudannya pada tahun 1940, dimulai dari Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) mendirikan sekolah tinggi Islam di Padang, dan selanjutnya ST Jakarta, dan tahun 1948 diubah menjadi UII dengan fakultas-fakultas agama, hukum, ekonomi dan pendidikan.
Tahun 1951 PTI swasta pertama didirikan setelah kemerdekaan. Pada tahun 1959, PTI di Medan berdiri Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, yang sudah mempunyai lima fakultas yaitu Pengetahuan Hukum dan Masyarakat, agama, sastra, ekonomi, serta keguruan dan pendidikan.  
Selanjutnya tahun 1953, di Bukittinggi didirikan Perguruan Tinggi Islam Darul Hikmah/ Universitas Islam Darul Hikmah.
Pada tahun 1954 tercatat pendirian Universitas Muslim Islam (UMI) diUjung Pandang dan pada November 1958 Muhammadiyah mendirikan FKIP di Surakarta dan akademi tabligh Muhammadiyah di Yogyakarta.
Selanjutnya tahun 1957 Perguruan Tinggi Islam Palembang mendirikan fakultas hukum Islam.
Semua yang telah dijelaskan bisa dianggap sebagai PTI-PTI pioneer atau pelopor yang nantinya akan diikuti oleh sejumlah besar PTI lain yang didirikan pada dekade-dekade berikutnya.[6]




DAFTAR PUSTAKA


Dhafir, Zamakhsari. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES, 1994.
Nata, Abudin Dan Azra, Azzumardi. Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia. Jakarta: Grasindo, tt.
Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam, Menelusuri Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta: Pranada Media Grup, 2007.
Thalib, M. Pendidikan Islam Metode 30. Bandung: LBS, 1996.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2014/03/konsep-pendidikan-pesantren-madrasah.html



[1] Abudin Nata Dan Azzumardi Azra, Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: Grasindo, tt), 90.
[2] Zamakhsari Dhafir, Tradisi Pesantren (Jakarta: LP3ES, 1994), 18.
[3] Ibid., 21.
[4] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Menelusuri Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia (Jakarta: Pranada Media Grup, 2007), 290-294.
[5] M. Thalib, Pendidikan Islam Metode 30 (Bandung: Lbs, 1996), 12.
[6] Abudin Nata Dan Azzumardi Azra, Sejarah ..., 232-240.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger